Warga Setuju Reaktivasi Kereta Bandung-Sumedang, Asal . . .

KABAR SUMEDANG – Warga Kecamatan Tanjungsari yang rumahnya berada di lahan jalur rel kereta api lama di wilayah Kecamatan Tanjungsari, setuju jika lahan dan bangunan akan dipakai kembali untuk mengaktifkan kembali rel kereta api. Asalkan, mereka diberikan kompensasi secara adil. Kompensasi itu, berupa pembebasan bangunan sekaligus penempatan ke lokasi baru.

“Silakan saja, jika pemerintah yakni PT KAI (Kereta Api Indonesia) akan mengaktifkan kembali rel kereta api lama. Asalkan, ada penggantian secara adil. Maksud adil, bangunannya dibeli (dibebaskan) dan kami ditempatkan kembali ke lokasi lain,” kata Ketua Forum Sawargi Sunda, Yanto ketika ditemui di rumahnya di Dusun Pamagersari RT 01 RW 04, Desa/Kecamatan Tanjungsari, Selasa 10 Januari 2017. Forum Sawargi Sunda dibentuk untuk memfasilitasi warga dengan pemerintah dalam rencana mengaktifkan kembali jalur rel kereta api lama.

Menurut dia, pembebasan bangunannya disesuaikan dengan harga pemerintah. Sementara untuk penempatannya, tergantung kebijakan PT KAI. Hanya saja, warga ingin lokasi penempatannya tak jauh dari rumah lamanya.

“Walaupun kami menempati tanah pemerintah di sekitar jalur rel kereta api, tapi kami setiap tahun membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Berarti, warga setiap tahunnya membayar pajak tanahnya. Jadi, dalam penempatannya harus disediakan tanahnya,” ujar Apih Yanto panggilan akrabnya.

Dikatakan, terkait dengan reaktivasi (mengaktifkan kembali) rel kereta api itu, hingga kini belum ada sosialisasi langsung dari PT KAI. Rapat pembahasan tentang reaktivasi hanya disampaikan oleh kepala desa. Oleh karena itu, kapan pelaksanaan reaktivasi tersebut belum jelas. Akan tetapi, di lapangan sempat ada pegawai PT KAI yang melakukan pematokan batas lahan jalur rel kereta api dan pengecekan kondisi tanahnya. “Dengan pematokan itu berarti reaktivasi rel kereta apinya pasti jadi. Cuma waktunya belum jelas,” katanya.

Menurut informasi, lanjut dia, pelaksanaan reaktivasi tersebut paling cepat 2018, paling lambat 2025 nanti. Untuk tahap awal, reaktivasi tersebut dari Rancaekek sampai Tanjungsari sekitar 10 kilometer. Sementara jangka panjang, akan diteruskan sampai ke Cirebon. Pengoperasian rel kereta api itu, tak hanya menbangkut pemunpang saja, melainkan mengangkut peti kemas dan batubara dari pelabuhan Cirebon.

“Informasinya, reaktivasi rel kereta api itu, selain untuk menambah moda transportasi, juga untuk menghindari kerusakan jalan nasional dan provinsi,” kata Yanto.

Menanggapi hal itu, Camat Tanjungsari Suherman mengatakan, reaktivasi jalur rel kereta api memang akan dilaksanakan tahun ini. Kegiatan tahun ini, pembebasan lahan. Sebelumnya, prosesnya sudah pematokan dan pengukuran lahan. Bahkan sudah dilakukan pendataan oleh PT KAI. “Kalau sudah pembebasan lahan, nanti dilanjutkan dengan pengosongan,” katanya.

Dikatakan, untuk pembahasan reaktivasi tersebut, sudah sering dilakukan rapat dengan PT KAI maupun dengan Dishub. Hanya saja, ada persoalan yang harus dicari solusinya. Sebab, ada perbedaan pendapat antara warga dengan PT KAI. Di satu sisi PT KAI cenderung tidak mau tahu dengan pembebasan bangunan. Sementara warga ingin diberikan kompensasi pembebasan bangunannya. “Ini yang harus diselesaikan dan dimusyawarahkan dulu supaya ada solusinya,” tuturnya.

Suherman mengatakan, terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, dirinya akan memperjuangkan supaya reaktivasi tersebut tidak merugikan masyarakat dan warga diberikan dana kerahiman. “Kami belum bisa menyosialisasikan kepada warga, karena masih menunggu informasi dulu dari PT KAI, terutama masalah dana kerahimannya,” tuturnya.***

Sumber : pikiran-rakyat.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *