Sekda dan Kepala BKPA Kab. Sumedang Diperiksa Kejari

KABAR SUMEDANG – Sekretaris Daerah (Sekda) H. Zaenal Alimin, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset (BPKA) Kab. Sumedang, H. Ramdan R. Deddy serta dua pejabat lainnya, memenuhi panggilan Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat dalam kasus dugaan korupsi pajak galian C tahun 2010-2014, di kantor Kejari Sumedang, Jumat (27/2/2015).

 Akibat korupsi pajak galian C tersebut, Pemkab Sumedang diduga menderita kerugian hingga miliaran rupiah.

Zaenal Alimin dan Ramdan dimintai keterangan saat keduanya menjabat sebagai Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kab. Sumedang dalam kurun waktu 2010-2014.

Begitu pula dua pejabat lainnya, yakni Asep Rahmat dan Didin Hermawan yang kala itu menjabat sebagai Kepala Bidang PAD (Pendapatan Asli Daerah) DPPKAD Kab. Sumedang.

“Pak Sekda (Zaenal Alimin-red), Pak Ramdan, Asep Rahmat dan Didin Hermawan kami panggil secara resmi untuk diminta klarifikasinya terkait dugaan korupsi pajak galian C tahun 2010-2014. Pemanggilannya, saat keduanya menjabat kepala dinas (DPPKAD-red) yang lama. Sementara Pak Asep Rahmat dan Didin saat itu sebagai Kabid PAD. Namun, pemanggilannya bukan sebagai saksi, tapi sebatas diminta klarifikasi saja,” ujar Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Sumedang, Arjuna Budi ketika dikonfirmasi di kantornya, Jumat (27/2/2015).

Menurut dia, dalam pemanggilan tersebut, mereka diminta menjelaskan terkait kewenangan dan tanggungjawabnya termasuk tupoksinya (tugas, pokok, fungsi) masing-masing dalam penarikan pajak galian C.

Selain itu, penyidik meminta penjelasan tentang prosedur penarikan pajak galian C, aliran dana penarikan pajak dari pengusaha tambang sampai ke kas daerah, pengawasannya, termasuk dugaan kebocoran pajaknya.

“Kami tidak menyodorkan sejumlah pertanyaan kepada mereka karena belum tahap penyidikan. Kami baru meminta klarifikasi saja mengingat prosesnya masih penyelidikan,” ujarnya.

Dari penjelasan mereka, lanjut dia, prosedur penarikan pajak galian C dari pengusaha tambang, ada yang ditarik langsung oleh petugas pajak di lapangan, ada juga pengusaha yang membayar ke petugas “teller” di loket pembayaran di kantor DPPKAD. Akan tetapi, sebagian besar ditarik langsung oleh petugas pajak kepada pengusaha di lapangan.

Dugaan sementara, kebocoran pajaknya terjadi saat penarikan pajak oleh petugas kepada pengusaha. Petugas pajak diduga tidak menyetorkan uang pembayaran pajak seluruhnya dari pengusaha ke kas daerah.

“Contohnya, yang seharusnya 10, dibayar 7. Akan tetapi, kami masih mendalami apakah tindakan itu dilakukan oleh petugas pajak sendiri atau atas suruhan pimpinanya,” kata Arjuna.

Lebih jauh ia menjelaskan, dalam proses penyelidikan dugaan korupsi galian C tersebut, Kejari sudah memanggil dan meminta keterangan dari 40 orang saksi meliputi birokrat dan pengusaha tambang.

Dari hasil pemeriksaan sementara, kerugian kas daerah akibat kasus tersebut mencapai Rp 500 juta. Tak lama lagi, Kejari akan menaikan statusnya dari penyelidikan ke penyidikan. Kejari pun sudah membukukan para calon tersangkanya, dari birokrat dan pengusaha tambang.

“Mudah-mudahan akhir Maret nanti, kami sudah menaikan status dari lid (penyelidikan) ke dik (penyidikan). Upaya itu, sesuai target yang disampaikan Pak Kajari saat ekspos sebelumnya,” tutur Arjuna.

Ketika dikonfirmasi di kantor Kejari Sumedang, Sekda Kab. Sumedang H. Zaenal Alimin yang mengenakan batik corak hijau mengatakan, dirinya memenuhi panggilan penyidik Kejari hanya diminta konfirmasi saja terkait penarikan pajak galian C. “Tidak ada jumlah pertanyaan, hanya ngobrol saja seputar galian C,” ujarnya sembari berjalan meninggalkan kantor Kejari.

Begitupula dengan Kepala BPKA Kab. Sumedang, H. Ramdan R. Deddy. Ia mengatakan, dirinya sebatas diminta klarifikasi soal kasus galian C saat dirinya menjabat Kepala DPPKAD.

“Cuma ngobrol saja tentang galian C. Lagi pula, saya menjabat Kepala DPPKAD hanya setengah tahun,” kata Ramdan sambil berjalan menghampiri mobil dinas yang diparkirnya. (Adang Jukardi/A-89)**

Sumber : pikiran-rakyat.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *