Dua Pemuda Diamankan

Dicurigai Sebarkan Paham Aneh

SUMEDANG, – Dianggap menyebarkan paham aneh, dua orang remaja pendatang yang kerap bolak-balik ke Dusun Babakan­jati RT 02/04 Desa Gunturmekar Kecamatan Tanjungkerta, kini diamankan Polsek Tanjungkerta.

Kedua warga yang diamankan Polisi, masing-masing YR (24) warga Kampung Babakan RT 03/01 Ds Nang­gerang Kecamatan Ciga­lontang Kabupaten Tasik­malaya, dan US (35) warga Dusun Canukur RT 06/01 Desa Sukaluyu Kecamatan Ganeas Kabupaten Su­me­dang.

Mereka berdua diamankan, saat hendak memberikan pengajian di rumah Ustad Oyan (32) salah seorang santri unggulan di Pesantren Darull Fallah, Bakanjati.

“Kami sebenarnya hanya mengamankan saja. Soalnya kami mendapat informasi kalau kedua orang tersebut sering menyampaikan paham yang berbeda dengan ajaran yang diyakini oleh warga setempat,” kata Kapolsek Tanjungkerta, Kompol. Yana Supiaya, Minggu (26/1) kemarin.

Saat diamankan kata Yana, warga memang sudah terlihat emosi. Untuk menjaga hal yang tidak diinginkan, pihaknya terpaksa mengamankan kedua orang tersebut.

“Persoalanya memang belum jelas. Dan sekarang keduanya sudah kami limpahkan ke Polres,” ujarnya.

Kepala Desa Gunturmekar, Kurnia Wahyu, saat dikonfirmasi membenarkan soal itu. Malah menurut Kurnia, dia sendiri memang sudah lama menerima laporan mengenai kecurigaan warga soal paham aneh yang sering disampaikan kedua orang tersebut.

“Numutkeun laporan ma­sya­rakat mah, jalmi eta teh memang sok ngadugikeun paham aneh nu teu sesuai sareng kayakinan warga di dieu. Salah sawiosna, Islam katurunan sapertos urang mah (beragama Islam mengikuti orang tua, red), saurna teh teu sah upami teu disahadatan/dibaiat deui ku kelompok ranjena,” kata Kurnia, saat menjelaskan pengaduan dari warganya.

Kurnia menyebutkan, sejauh ini memang belum banyak warga yang terpengaruh oleh paham kedua orang tersebut. Hanya saja menurut informasi, warga yang sudah jelas-jelas sempat terpengaruh itu yakni baru Ustaz Oyan dan tiga orang santri.

Khusus Ustad Oyan, kata Kurnia, konon dia sudah sempat dibaiat sebanyak dua kali oleh kelompok itu, yakni di daerah Ganeas dan Jatinangor. Sementara untuk tiga orang santri lainnya, baru sempat ikut ngumpul sebanyak dua kali dan belum sampai dibaiat.

“Awalna mah pendak di Mesjid saurna teh. Tah harita teh jalmi ituna kaleresan nuju icalan roko. Waktos Ustaz Oyan beres netepan, jalmi itu teh ujug-ujug ngajak ngobrol dugi ka Pa Ustad kapangaruhan. Ti harita teras we sok ngayakeun pertemuan-pertemuan bari rada susulumputan,” ujarnya.

Permasalahan ini sebenarnya muncul setelah Ustaz Oyan kembali sadar dari pengaruh kedua orang tersebut. Dia langsung melaporkan masalah yang dialaminya itu kepada Pimpinan Pesantren Darull Fallah, Ustad Wawan Sopwan. E-27***

Sumber : http://www.kabar-priangan.com/news/detail/12375

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *