Sepeninggal Bupati HES Suhu Politik Memanas

0

SUMEDANG, – Suhu politik di Sumedang mendadak memanas sejak ditinggal wafat oleh Bupati H. Endang Sukandar (HES) empat hari lalu. Bahkan sementara pihak ada yang meramalkan terjadi chaos menjelang suksesi kepemimpinan di Kota Tahu ini. Figur Wakil Bupati, Ade Irawan yang sedianya secara otomatis menggantikan posisi HES, ditanggapi pro-kontra di tengah masyarakat.

Sejak HES meninggal, situs media sosial disemarakkan berbagai tanggapan dari sejumlah aktivis dan tokoh masyarakat, mulai dari yang menyikapi secara radikal, moderat, hingga skeptis. Mereka yang bersikap radikal menutut diselenggarakannya Pemilukada ulang, karena figur Ade Irawan dinilai tidak merepresentasikan pilihan rakyat.

Sedangkan yang bersikap moderat, cenderung mengikuti alur normatif, di mana posisi Ade Irawan yang kini menduduki jabatan wakil bupati, secara otomatis berhak menggantikan HES. Sementara kelompok masayarakat yang bersikap skeptis, mereka memandang persoalan suksesi kepemimpinan di daerahnya tidak menjadi bagian penting dalam hidupnya.

“Rakyat itu memilih HES, bukan Ade Irawan, sekalipun dalam konstelasinya HES berpasangan dengan Ade Irawan. Kami tidak kenal dengan nama Ade Irawan,” tulis sebuah akun facebook.

Berdasarkan pantauan di lapangan, Selasa kemarin sejumlah aktivis sibuk mengadakan pertemuan tertutup, merumuskan strategi dan penyikapan terhadap fenomena politik yang kian menghangat di Sumedang. Begitupun para tokoh politik, baik yang pro maupun kontra, masing-masing disibukkan dengan lobi-lobi, sekalipun secara institusional belum menyatakan sikapnya secara terbuka.

Menanggapi fenomena politik di Sumedang belakangan ini, Ketua Komisi A DPRD Sumedang, H.Ending Ahmad Sadjidin menyatakan, DPRD akan berpegang kepada aturan normatif sesuai dengan Undang-undang No. 12 tahun 2008 tentang perubahan ke dua Undang-undang No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. DPRD harus segera mengusulkan pemberhentian HES dari jabatan bupati Sumedang karena wafat ke Mendagri melalui gubernur Jawa Barat.

“Kemudian mengangkat dan menetapkan Ade Irawan dari jabatan wakil bupati menjadi bupati melalui sidang paripurnaDPRD. Setelah dilantik, Ade berhak mengusulkan dua nama yang berasal dari partai pengusungnya atau dari gabungan partai pengusungnya untuk mengisi jabatan wakil bupati untuk dipilih oleh DPRD,” kata Ending, yang mengaku dirinya sedang berada dalam sebuah pertemuan politik.

Menurut Ending, mekanisme ini merupakan sikap yang pa­ling rasional, sekalipun ada aspirasi sebagian masyarakat yang menghendaki Pemilukada ulang. Karena, jika terjadi Pemilukada ulang, selain akan terjadi kevakuman roda pemerintahan untuk sementara waktu, juga akan berakibat biaya tinggi.

“Untuk penyelenggaraan Pemilukada itudiperlukan anggaran sekitar Rp.50 miliar,” lanjut politisi gaek yang terkenal vokal ini. Kepada segenap lapisan masyarakat, termasuk partai-partai politik pemilik kursi terbanyak di DPRD Sumedang seperti PDIP dan Partai Golkar, Ending meminta supaya bersikap arif dan bijaksana dalam menyikapi persolan ini. Bahkan, dia menantang untuk berdebat dengan siapa saja yang berseberangan de­ngan sikap dan pendiriannya. G-25***

Sumber : http://www.kabar-priangan.com/news/detail/11400

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here