Petani Ujungjaya Manfaatkan Burung Hantu

0

Basmi Hama Tikus

KABAR SUMEDANG – Dalam semalam burung hantu (bueuk) dewasa bisa memangsa minimal lima ekor tikus. Oleh karena itu, petani di Kecamatan Ujungjaya sengaja memelihara burung hantu dengan membuat kandang burung hantu di tengah sawah. Atau, petani membiarkan burung yang biasa berkeliaran malam hari tersebut bersarang di rumah-rumah penduduk.

Menurut petani yang disampaikan kepada Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Dedi Kusnadi Thamim saat acara panen raya di Kudangwangi Kecamatan Ujungjaya, Kamis (19/3) lalu, burung hantu itu sangat membantu petani dalam membasmi tikus.

Burung hantu itu berdiam di sa­­rangnya pada siang hari dalam suasana tidak ada ke­giatan manusia. Namun, bila terganggu oleh aktivitas manusia burung hantu bisa stress sehingga kabur atau mati. Oleh karena itu, Pangdam pun urung untuk melihat sarung burung hantu yang berada di tengah sawah.

Menurut salah seorang petani yang juga aparat Desa Kudang­wangi, Omo Rohmana (60), populasi burung hantu di Ujung­jaya masih banyak karena banyak hutan. Di Kecamatan Ujungjaya, kata Omo, burung hantu tidak boleh ditangkap atau ditembak karena sangat bermanfaat bagi petani dalam membasmi hama tikus. Oleh karena itu, katanya, cara lain untuk memelihara burung hantu, petani sengaja membuat kandang di tengah sawah.

Cara membuat sarang burung hantu memakai tiang dari pohon jambe (pinang) atau kayu lain sepanjang 2,5 – 3 me­ter dari permukaan tanah. Ke­mu­dian di atasnya membuat kan­dang seperti untuk kandang burung dara dengan lubang pintu.

Kalau pun burung hantu tidak tinggal di kandang itu, pa­ling tidak, burung tersebut bisa datang setiap malam ke tempat itu. Burung tersebut akan diam di tempat itu semalaman me­nan­ti tikus keluar dari sa­rang­nya. Bila tikus keluar dari sa­rang­nya, burung hantu itu langsung menyambarnya karena penglihatannya sangat tajam melihat gerakan di bawah.

“Burung hantu biasanya ber­sarang di rumah kosong, atau di atap di rumah. Burung hantu bisa beranak dua atau ti­ga ekor, tapi kami belum tahu berapa hari burung hantu me­nge­ram, atau berapa kali burung hantu beranak dalam setahun, karena belum ada pe­nelitian,” kata Omo yang menggarap sawah carik 500 tumbak dan sawah milik pribadi 250 tumbak.

Pemangsa lain untuk hama tikus tersebut juga ular sawah dan kucing. “Tetapi sergapan ular atau kucing dalam memangsa tikus kalah trengginas oleh burung hantu. Kucing juga kalau sudah kenyang di rumah majikannya akan malas untuk memangsa tikus,” kata petani yang lain. (Endang DS)***

Sumber: kabar-priangan.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here