Pengusaha Tekstil Keberatan dengan Rencana Kenaikan TDL

0

KABAR JATINANGOR – Sejumlah pengusaha industri tekstil dan garmen yang tersebar di wilayah Kec. Jatinangor dan Cimanggung, Kab. Sumedang keberatan adanya rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) pada Mei 2014. Keluhan serupa juga di sampai sejumlah pengusaha industri tekstil dan garmen di wilayah timur Kab. Bandung yang meliputi Kec. Rancaekek, Solokanjeruk, Majalaya, Paseh, Cicalengka, Cikancung dan kecamatan lainnya.

Berdasarkan informasi di lapangan, Senin (17/2/2014) siang, rencana kenaikan TDL untuk golongan industri secara terukur antara 36-38 %. Perwakilan pengusaha di wilayah timur Kab. Bandung, Prawira menyatakan, dengan adanya rencana kenaikan TDL yang sempat digelindingkan ke publik, sempat menjadi pembahasan di kalangan para pengusaha.

“Banyak di antara pengusaha yang mulai membicarakan dan membahas hal itu. Yang jelas para pengusaha industri keberatan dan mengeluhkan rencana kenaikan TDL,” kata Prawira kepada klik-galamedia.com, kemarin.

Yang menjadi alasan pengusaha mengeluhkan hal itu, kata Prawira, karena para pelaku industri tekstil baru saja dibebani dengan kenaikan upah minimum kabupaten (UMK) Bandung 2014 sebesar Rp 1.735.473. Sebelumnya, UMK Bandung 2013 Rp 1.388.333 atau ada kenaikan sekitar 25 persen.

Sama halnya kondisi serupa dialami para pengusaha di Kab. Sumedang dan kabupaten lainnya. “Beban pengusaha tak hanya persoalan UMK, juga proses perizinan dan pajak serta restribusi yang menjadi kewajibannya. Belum lagi kebutuhan bahan bakar batu bara yang harus dipenuhi,” katanya.

Sehingga banyak di antara pengusaha yang tak berharap adanya kenaikan TDL. Karena kenaikan TDL akan berdampak pada harga-harga produksi dan kebutuhan rumah tangga.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kab. Sumedang sekaligus Direktur Utama PT. Sandang Jaya Makmur, TT Hidayat Sugandi menyatakan, kenaikan TDL akan berdampak sangat besar terhadap kelangsungan industri di wilayahnya. “Kenaikan TDL jangan sampai terjadi,” harapnya.

Meski sejauh ini, kata dia, beberapa pengusaha industri belum menyampaikan keluhannya kepada dirinya. Tetapi dampak dari kenaikan TDL, akan menimbulkan dampak terhadap perusahaan yang menggunakan energi listrik, seperti garmen, makanan, minuman, tekstil, dan sepatu.

Dikatakan, perusahaan-perusahaan tersebut berpotensi menaikan nilai jual produksi, jika pemerintah jadi menaikkan TDL pada Mei mendatang. Jika para pengusaha industri terus dibayangi dengan kenaikan TDL, mereka berpotensi memindahkan asetnya ke negara lain. “Negara lain siap menampung,” katanya.

Perusahaan yang mudah hengkah itu, di antaranya industri tekstil, sepatu, makanan dan minuman serta perusahaan lainnya. Sementara industri tersebut menyerap tenaga kerja cukup banyak. Menurutnya, adanya potensi itu karena efisiensi energi listrik di negara lain diinformasikan lebih bagus.

Pada dasarnya, kata dia, para pelaku usaha menyetujui adanya upaya pemerintah mencabut subsidi energi listrik secara bertahap. Subsidi listrik pun akan dihilangkan hingga Desember 2014. “Dengan adanya rencana kenaikan TDL Mei mendatang, sejumlah pengusaha menyatakan keberatan,” katanya.

Selain dihantui rencana kenaikan TDL, kata Hidayat, pengusaha juga dihantam dengan persoalan nilai rupiah yang tidak stabil terhadap nilai tukar uang dolar Amerika. “Ketidakstabilan nilai tukar rupiah ke dolar Amerika, menyebabkan biaya produksi melambung. Pasalnya, banyak di antara perusahaan industri yang memanfaatkan bahan baku hasil dari impor,” katanya. (kos)

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/pengusaha-tekstil-keberatan-dengan-rencana-kenaikan-tdl

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here