Kawasan Cipacing, Pusatnya Kerajinan Tangan

0

CIPACING memang dikenal sebagai sentra pembuatan senapan angin. Tapi, warga pun membuat aneka barang kerajinan tangan berkualitas lainnya.

Operasi polisi menangkap sejumlah oknum perajin senapan yang diduga menyediakan pistol rakitan bagi pelaku kriminal dan terorisme, pada pertengahan September 2013, berbuah dua sisi bagi kawasan Cipacing, Jatinangor, Sumedang.

Pemberitaan melalui media cetak dan elektronik seketika membuat Cipacing makin dikenal publik dalam dan luar negeri. Di sisi lain banyak orang merasa ragu atau bahkan takut dicurigai macam-macam jika datang ke Cipacing.

Terlepas dari persoalan di atas, kawasan Cipacing sendiri memang menyimpan sejumlah potensi pariwisata. Berbagai barang kerajinan tangan yang diproduksi masyarakat diminati tidak hanya di dalam negeri, tapi telah diekspor ke luar negeri selama puluhan tahun.

“Sebab, pada dasarnya masyarakat Cipacing memang kreatif, serba bisa. Menggambar, buat patung, jarum, kancing. Sampai-sampai ketika diberi besi pun masyarakat bisa membuat senapan angin berkualitas baik. Makanya, di zaman revolusi perajin di sini membantu para pejuang menyediakan senapan untuk melawan Belanda,” jelas RG Soegiat, pemilik Toko Senapan Angin Patung Tembak, Rabu (29/1) siang.

Pria 73 tahun yang juga pemilik RM Sop Buntut di Jalan Raya Cipacing No 17, Jatinangor, Sumedang, ini menjelaskan, seiring berjalan waktu makin banyak warga beralih dari perajin jadi pengusaha. Sementara keahlian membuat barang kerajinan diwariskan kepada anak-anak mereka.

Berkembangnya industri pembuatan senapan angin pada 1970-an, membuat warga sepakat mendirikan Koperasi Badan Industri Kerajinan Rakyat (Bapikra). Anggotanya tak hanya dari Cipacing tapi juga dari berbagai daerah lain di Jawa Barat seperti Cikeruh, Garut, Bogor, dan daerah lain.

Para pengurus Bapikra pun sempat mengikuti Munas Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) di Jakarta pad 28-29 Mei 1979. Saat itu pula dirintis pembuatan ruang pamer (showroom) barang-barang kerajinan produksi anggota Bapikra.

Meski telah mendapat dukungan pemerintah, tapi para pengusaha dan perajin memilih memasarkan sendiri produk mereka tanpa melalui ruang pamer Bapikra. Bapikra pun dinyatakan bubar sekitar tahun 1990-an.

Meski begitu sejumlah produk favorit, seperti hiasan panah dan tas kulit tetap diekspor ke kawasan Timur Tengah seperti Iran dan Arab Saudi. Beberapa barang kerajinan lain termasuk alat musik tradisional juga dikirim ke berbagai toko suvenir di Pulau Bali. Sampai sekarang juga masih ada sekitar 50 perajin senapan angin.

Kini sejumlah warga Jakarta, Jawa Tengah, serta warga dari kabupaten dan kota lain di Jawa Barat mulai tertarik berwisata ke Cipacing. Tapi masih lebih banyak yang datang karena bus antarkota antarprovinsi yang mereka tumpangi singgah di kawasan ini.

“Untuk benar-benar menjadikan Cipacing sebagai kawasan wisata, ada tiga yang perlu dibenahi. Orang, tempat, dan modal. Terpenting yaitu orang yang harus punya niat sungguh-sungguh, sanggup menjalankannya, dan benar-benar mengerti,” jelas Soegiat. [rni]

Sumber : http://www.inilahkoran.com/read/detail/2069908/kawasan-cipacing-pusatnya-kerajinan-tangan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here