Kahatex Digugat Rp 9 Miliar

0

KABAR SUMEDANG – PT Kahatex yang berada di Jalan Raya Bandung–Garut, digugat kuasa hukum PT Multi Kontrol Nusantara, melalui Pengadilan Negeri Sumedang. PT Kahatex digugat karena diduga melakukan wanprestasi atau ingkar janji terkait kesepakatan sewa menyewa perangkat ‘power saver’ pada 5 Maret 2009.

Kuasa hukum PT MKN, Selamet Yuwono, mengatakan, PT Kahatex telah terbukti melakukan wanprestasi dan harus membayar ganti rugi Rp 9.140.490.607 (Rp 9 miliar lebih) kepada PT MKN.

Hal itu, kata Slamet, sesuai putusan PN Sumedang nomor 16/PDT.G/2011/PN.SMD. Bahkan, kata dia, diperkuat putusan pengadilan tinggi Bandung dan putusan kasasi mahkamah agung (MA).

“Putusan MA nomor 2585 K/pdt/2013 itu berkekuatan hukum tetap atau inkracht van gewijsde. Sudah jelas,” kata Slamet kepada sejumlah wartawan seusai peletakan sita ekseskusi di PT Kahatex melalui juru sita PN dan BPN Sumedang, Senin (15/9/2014) di PT Kahatex.

Sesuai kesepakatan, kata dia, pada Agustus 2009 lalu, PT. MKN telah memenuhi kewajibannya untuk memasang produk penghemat energi tersebut di PT Kahatex sebanyak 184 panel ‘power saver’.

Diakui juga oleh Slamet, satu di antara panel power saver tersebut ada beberapa komponennya yang rusak akibat kebocoran kapasitor dan telah diperbaiki. Kemudian, kata dia, sebanyak 183 panel lagi kondisinya baik dan masih dimanfaatkan di sana.

“Aneh, selanjutnya PT Kahatex tak mau memakai panel yang telah diperbaiki dan 183 panel lainnya. Pernyataan PT Kahatex tak akan kembali memakai power saver milik PT MKN itu, tentu saja menjadi alasan kami menyebut PT Kahatex wanprestasi,” katanya.

Selanjutnya, kata Slamet, PT MKN mengajukan permohonan sita ekseskusi yang selanjutnya PN Sumedang mengeluarkan penetapan sita eksekusi . Hari ini , kata dia, PN Sumedang melalui juru sita meletakan sita ekseskusi terhadap sebagian lahan dan bangunan pabrik PT Kahatex di Jalan Raya Bandung–Garut Kabupaten Sumedang.

“Peletakan sita eksekusi itu, turut dihadiri BPN Sumedang, Muspika Jatinangor dan Kades Cintamulya,” ucap Slamet.

Menanggapi persoalan tersebut, kepala bagian Umum PT. Kahatex, Ludy mengatakan mengatakan bahwa persoalan utang piutang tersebut masih dalam tahapan perundingan.

“Sekarang tahapan Peninjauan Kembali di pengadilan melalui Mahkamah Agung Persoalan tersebut, tak perlu di blow up ke banyak pihak, karena kami masih menempuh upaya terbaik ke MA,” kata Ludy.

Pihaknya pun kata Ludy masih intens komunikasi, karena memang putusan pengadilan seperti itu, Sehingga sebagai warga negara yang baik maka pihak PT Kahatex menjalankan saja apapun putusan pengadilan.

Di samping itu, kata Ludy, PT. Kahatex tetap mengajukan koordinasi-koordinasi dan perundingan upaya penyelesaian yang baik. (Mochamad Iqbal Maulud-“PR” & E-42/A-88)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/296994

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here