Flyover dan Normalisasi Sungai Solusi Atasi Banjir di Cimanggung

0

fly over kabar sumedang

KABAR SUMEDANG – Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kab. Sumedang sudah mengajukan surat kepada pemerintah pusat untuk pembangunan jalan flyover dan normalisasi sejumlah sungai.

Pengajuan itu guna mengatasi banjir yang melanda pemukiman penduduk di daerah Jatinangor dan Cimanggung serta menggenangi Jalan Raya Bandung-Garut di depan PT Kahatex, Kab. Sumedang. Surat diajukan melalui BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Citarum dan BBPJ (Balai Besar Penanganan Jalan) Wilayah IV DKI Jakarta dan Jabar.

“Suratnya sudah diajukan beberapa hari lalu. Namun, sampai sekarang belum ada jawabannya. Terlepas dari itu, kami meminta pusat untuk merealisasikan usulan kami ini. Sebab, pembangunan flyover dan normalisasi sungai menjadi solusi efektif dan efisien guna mengatasi banjir langganan di wilayah Jatinangor dan Cimanggung termasuk Jalan Raya Bandung –Garut. Jika tidak, dampak banjir akan melumpuhkan perekonomian wilayah Bandung Raya dan Kab. Sumedang serta wilayah timur Jabar, seperti Garut dan Tasikmalaya,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kab. Sumedang, Sujatmoko ketika dihubungi di Sumedang, Minggu (13/4/2014).

Sujatmoko menjelaskan, pembangunan flyover tersebut, dari pintu tol Cileunyi sampai Parakanmuncang, Kec. Cimanggung, Kab. Sumedang. Dengan jalan flyover, bisa mengatasi kemacetan kendaraan akibat genangan banjir di Jalan Raya Bandung-Garut, tepatnya di depan PT Kahatex.

Apalagi dampak banjir, melumpuhkan arus lalu lintas kendaraan dari Bandung menuju Garut dan daerah lainnya di wilayah timur Jabar. Lumpuhnya arus lalu lintas, tentunya mengganggu perekonomian masyarakat.

“Selain mengatasi kemacetan akibat banjir, jalan Flyover juga bisa mengatasi kemacetan setiap pagi dan sore ketika masuk dan bubaran buruh pabrik yang mencapai 35.000-40.000 orang, terutama buruh PT Kahatex. Termasuk kemacetan setiap Sabtu-Minggu, dampak berjejernya PKL (Pedagang Kaki Lima) di depan PT Kahatex. Sementara jalan di bawahnya, untuk warga dan pengendara lokal. Akan tetapi, permukaan jalannya pun harus ditinggikan lagi,” katanya.

Lebih jauh ia menjelaskan, banjir di daerah Jatinangor, Cimanggung serta Jalan Raya Bandung-Garut, terjadi setiap tahun di musim hujan. Banjir akibat luapan tiga sungai yang melintasi Jalan Raya Bandung-Garut. Ketiga sungai itu, yakni Sungai Cikeruh, Cimande dan Cikijing yang bermuara ke Sungai Citarum.

Meluapnya ketiga sungai tersebut, pengaruh beberapa faktor. Pertama, dimensi sungai menyempit. Dimensi dari hulunya besar, tapi ke hilir menyempit. Kedua, alur sungai berbelok-belok. Ketiga, posisi gelagar jembatan ketiga sungai terlalu bawah bahkan nyaris menyentuh aliran sungai.

Keempat, di bawah jembatan banyak utilities, seperti pipa PDAM dan kabel Telkom. Kelima, saluran air di pemukiman penduduk tidak teratur. Keenam, banyak sampah yang dibuang sembarangan ke sungai.

“Keenam faktor ini lah yang menyebabkan air sungai meluap hingga menyebabkan banjir ke pemukiman penduduk dan jalan raya,” ujar Sujatmoko.

Solusi mengatasi banjir, lanjut dia, pemerintah pusat melalui BBWS Citarum mau tak mau harus menormalisasikan sungai dengan pengerukan serta membuat sodetan supaya alurnya tidak berbelok-belok. Konsekuensinya, pemerintah pusat harus membebaskan lahan.

Selain itu, meninggikan gelagar jembatan supaya arus sungai mengalir bebas. “Saluran air di pemukiman penduduk juga harus dibenahi dan jangan membuang sampah sembarangan ke aliran sungai,” tuturnya.

Sujatmoko menambahkan, mengingat ketiga sungai bermuara ke Citarum dan melintasi beberapa kabupaten/kota sehingga normalisasi menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui BBWS Citarum. “Begitu juga pembangunan flyover, kewenangan pusat karena Jalan Raya Bandung-Garut statusnya jalan nasional,” (A-67/A-89)***PRLM

Sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/node/277656

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here