Dinkes Sumedang Siapkan Petugas Medis Menjaga Kesehatan Bupati

0

SUMEDANG, – Dinas Kesehatan Kab. Sumedang akan menyiapkan tenaga medis untuk menjaga kondisi kesehatan bupati dan wakil bupati, terutama ketika melakukan kunjungan ke lapangan.

Petugas medis itu akan memantau kondisi kesehatan bupati dan wabup, bahkan mampu menangani penyakit yang bersifat gawat darurat yang kejadiannya mendadak atau emergency.

“Tanpa memandang usia, bupati maupun wabup memang sudah seharusnya dikawal oleh petugas medis. Bukan hanya ajudan saja, tetapi harus ada petugas medis yang bisa menjaga dan memantau kondisi kesehatannya. Jangan sampai, bupati atau wabup kelelahan ketika bertugas,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kab. Sumedang, Retno Ernawati , ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu (6/11/2013).

Menurut dia, tak dipungkiri perlunya tenaga medis untuk menjaga kondisi kesehatan bupati dan wabup itu, hasil evaluasi meninggalnya Bupati Sumedang H. Endang Sukandar karena kelelahan saat menjalankan tugas ke lapangan.

“Presiden juga selalu dikawal tim medical. Pak bupati dan wabup juga harus. Kita siapkan tenaga medis atau perawat yang mahir dan terlatih, khususnya yang mampu menangani kasus penyakit gawat darurat yang sifatnya emergency,” tuturnya.

Menyinggung kemungkinan di lokasi Bupati H. Endang Sukandar meninggal dunia di daerah Desa Karedok, Kec. Jatigede didirikan rumah sakit baru, Retno menilai, hal itu dinilai tidak perlu. Selain di Desa Karedok sudah ada pustu (puskesmas pembantu) dan di Kec. Jatigede sudah ada puskesmas, juga ada rumah sakit terdekat yakni Rumah Sakit Cideres, Kab. Majalengka.

“Rumah Sakit Cideres itu, sekaligus untuk melayani kesehatan warga Sumedang di daerah terpencil di wilayah Kec. Jatigede, Jatinunggal dan Wado. Jadi, tidak perlu mendirikan rumah sakit baru di Jatigede. Apalagi belum tentu para dokter spesialisnya mau ditempatkan di daerah terpencil,” kata Retno.

Pertimbangan lainnya, kata dia, pendirian pustu dan puskesmas ada aturannya, salah satunya harus disesuaikan dengan jumlah penduduk. Contohnya, pendirian pustu untuk daerah yang berpenduduk 500-1.000 KK.

Sementara puskesmas apabila penduduknya sekitar 3.000 KK. “Jadi pendirian pustu dan puskesmas di Desa Karedok, Kec. Jatigede itu, sudah disesuaikan dengan jumlah penduduknya,” tuturnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, justru yang menjadi permasalahan di Desa Karedok, Kec. Jatigede, yakni sulitnya akses untuk menjangkau ke tempat pelayanan kesehatan. Contohnya, di Desa Karedok ada jembatan gantung yang cukup panjang yang tidak bisa dilalui mobil. Padahal, jembatan itu akses satu-satunya warga untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di puskesmas maupun pustu.

“Kalau akses ke tempat pelayanan kesehatannya mudah, jarak dari lokasi meninggalnya pak bupati ke Rumah Sakit Cideres bisa ditempuh 15 menit. Jadi, efektifnya pelayanan kesehatan di daerah terpencil, sangat tergantung pada kemudahan aksesnya. Misalnya, jalan dan jembatannya harus memadai,” ujar Retno. (A-67/A-89)***

Sumber :  http://www.pikiran-rakyat.com/node/257590

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here