Berkas Kasus Penganiayaan Iwan Kusumah Dikembalikan

0

KABAR SUMEDANG – Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumedang mengembalikan berkas kasus penganiayaan korban Ketua Gapensi Kab. Sumedang sekaligus Ketua LSM Sabda Nusantara, Iwan Kusumah yang kedua kalinya kepada penyidik Polres Sumedang. Pengembalian berkas kasus tersebut, karena masih banyak alat bukti yang belum lengkap.

“Bahkan minimal harus ada 2 alat bukti, masih belum terpenuhi juga. Padahal, kelengkapan alat bukti ini menjadi dasar kami untuk membuat dakwaan dalam persidangan nanti. Karena masih banyak alat bukti yang belum lengkap, sehingga hari ini kami akan mengembalikan berkas kasus yang kedua kalinya kepada penyidik Polres Sumedang untuk dilengkapi. Waktunya 14 hari dari hari ini,” kata Kajari Sumedang, Dwi Harto, S.H., ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (11/3/2014).

Menurut dia, pengembalian berkas yang pertama dilakukan 19 Februari lalu. Setelah itu, penyidik Polres Sumedang mengirimkan lagi berkas tersebut kepada kejaksaan tanggal 4 Maret lalu.

Setelah diteliti lagi, ternyata beberapa petunjuk yang harus dilengkapi sebelumnya, masih belum dilengkapi. “Hari ini kami akan mengembalikan lagi berkas yang kedua kalinya untuk dilengkapi penyidik Polres Sumedang,” kata Dwi Harto.

Dikatakan, alat bukti yang harus dilengkapi, seperti halnya meminta keterangan saksi ahli kejiwaan. Keterangan saksi ahli kejiwaan tersebut, sangat penting untuk mengevaluasi kejiwaan tersangka WN/Wahyu Nugroho.

“Apalagi, gara-gara hal sepele yakni kecipratan bekas jus alpukat, tersangka nekat menganiaya korban hingga akhirnya korban meninggal dunia. Jadi, kejiwaan tersangka harus diteliti,” ujarnya.

Lebih jauh Dwi Harto menjelaskan, dalam bekas kasus itu, penyidik hanya terbatas mencatumkan keterangan tersangka. Padahal, keterangan tersangka merupakan alat bukti terendah.

Apalagi tersangka atau terdakwa memiliki hak ingkar ketika pemeriksaan maupun saat di persidangan. Dengan hak ingkar, bisa saja keterangan tersangka atau terdakwa berubah.

“Yang dimaksud alat bukti, antara lain keterangan saksi, saksi ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. Nah, keterangan tersangka atau terdakwa merupakan alat bukti terendah,” kata Dwi Harto.

Ia mengatakan, kelengkapan alat bukti tersebut, selain menjadi dasar dakwaan sekaligus juga pertaruhan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di persidangan nanti. Dengan alat bukti yang lengkap, JPU bisa meyakinkan hakim saat di persidangan.

“Kalau alat buktinya minim, bagaimana kami bisa meyakinkan hakim? Selain alat buktinya belum lengkap, juga belum ada kesesuaian antara fakta dengan alat bukti,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, gara-gara mukanya kecipratan sisa jus alpukat di jalan yang terlindas mobil korban, tersangka WN/Wahyu Nugroho (20) warga Pesuruhan, Kec. Mentoyudan, Magelang, Jawa Tengah, nekat menganiaya korban, Iwan Koswara Kusumah (56) warga Jalan Arief Rahman Hakim, Kec. Sumedang Utara.

Akibat aksi sadis tersangka, korban yang menjabat Ketua Gapensi Kab. Sumedang sekaligus Ketua LSM Sabda Nusantara akhirnya meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Plumbon Cirebon, tanggal 15 Desember 2013 lalu.

Aksi penganiayaan yang dilakukan pelaku tanggal 11 Desember 2013 pukul 00.00 WIB, bermula karena pelaku merasa sakit hati karena muka dan badannya kecipratan sisa air jus alpukat di jalan yang terlindas mobil Nissan Terano D 1523 SN milik korban di Jalan Arif Rahman Hakim dekat Griya Plaza Sumedang, Senin (2/12/2013) lalu. (A-67/A-89)***PRLM

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/273347

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here